Selamat Datang

donate gaes biar semangat update scriptnya😁😁

Donate

Pengertian, Ciri-ciri, Struktur, Unsur, dan Kaidah Kebahasaan Novel Lengkap

Novel adalah salah satu karya sastra yang terdiri dari cerita fiksi yang panjang dan kompleks.
KEDER BANG?
Estimated read time: 12 min
Please wait 0 seconds...
Scroll Down and click on Go to Link for destination
Congrats! Link is Generated
Materi novel
Pengertian, Ciri-ciri, Struktur, Unsur, dan Kaidah Kebahasaan Novel Lengkap

Jika kamu menyukai membaca, pasti sudah tidak asing lagi dengan novel. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang populer dan banyak dibaca oleh masyarakat. Namun, tahukah kamu apa itu novel dan bagaimana kaidah kebahasaan novel? Yuk, simak penjelasan berikut!

Pengertian Novel

Novel adalah salah satu karya sastra yang terdiri dari cerita fiksi yang panjang dan kompleks. Biasanya, novel memiliki tema yang kompleks dan dapat membawa pembaca dalam petualangan yang mendalam dan seru. Novel juga dapat disebut sebagai cerita panjang yang diorganisir dengan struktur yang sistematis dan memiliki unsur kebahasaan yang unik.

Ciri-ciri Novel

  1. Panjang: Novel memiliki panjang cerita yang lebih dari 40 halaman.
  2. Kompleks: Novel memiliki plot yang kompleks dengan berbagai elemen dan plot twist yang menarik.
  3. Karakter yang Mendalam: Novel menggambarkan karakter dengan lebih detail dan mendalam.
  4. Bahasa yang Menarik: Bahasa dalam novel harus menarik dan memiliki ciri khas yang unik.
  5. Tema yang Beragam: Novel memiliki tema yang bervariasi dan seringkali mengeksplorasi tema sosial dan psikologis.

Kaidah Kebahasaan Novel

Agar dapat menulis novel dengan baik, penulis harus memahami kaidah kebahasaan novel. Berikut beberapa kaidah kebahasaan yang perlu diperhatikan:

  1. Ungkapan: Novel harus menggunakan ungkapan yang tepat dan tidak bertele-tele. Ungkapan yang digunakan harus mudah dipahami dan tidak membingungkan.
  2. Majas: Novel dapat menggunakan majas untuk memperkaya bahasa dan menunjukkan kualitas kepenulisan yang baik.
  3. Peribahasa: Penggunaan peribahasa dapat memberikan nuansa yang kuat pada cerita dan memperkuat karakter.

Struktur Novel

Struktur novel adalah susunan yang terdiri dari beberapa unsur penting yang membentuk sebuah cerita. Struktur ini sangat penting karena membantu menentukan bagaimana cerita akan berkembang dan memberikan pengalaman membaca yang menyeluruh bagi pembaca.

Struktur novel terdiri dari enam unsur, yaitu abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda. 

  • Abstrak adalah bagian awal cerita yang memberikan gambaran umum tentang tema utama, karakter, latar belakang, dan konflik utama yang akan dihadapi tokoh dalam cerita.
  • Orientasi adalah bagian di mana penulis memperkenalkan karakter dan latar belakang mereka secara detail, dan memperkenalkan setting atau latar tempat cerita berlangsung.
  • Komplikasi adalah bagian di mana konflik utama mulai muncul dan tokoh-tokoh menghadapi tantangan yang memperumit cerita.
  • Evaluasi adalah bagian di mana konflik mulai mendekati klimaks, dan tokoh-tokoh dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang mempengaruhi alur cerita.
  • Resolusi adalah bagian di mana konflik utama diselesaikan dan cerita mencapai klimaksnya. Tokoh-tokoh mulai menemukan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi, dan akhir cerita mulai terungkap.
  • Koda adalah bagian akhir dari cerita di mana penulis memberikan penutup untuk cerita dan memberikan kesimpulan atau pesan moral yang dapat dipetik dari cerita.

Unsur Intrinsik Novel

1. Tema

Tema adalah unsur intrinsik dalam sebuah novel yang mencakup ide utama atau pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui cerita. Tema dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang makna cerita dan membantu pembaca untuk menggali pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang.

Tema dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung dalam cerita. Tema yang diekspresikan secara langsung biasanya disampaikan melalui kata-kata atau tindakan tokoh, sedangkan tema yang tidak langsung dapat disampaikan melalui latar belakang, plot, dan karakterisasi dalam cerita.

Beberapa contoh tema yang sering ditemukan dalam novel adalah cinta, persahabatan, pengkhianatan, pertumbuhan dan perkembangan, keadilan, kebebasan, dan perang. Namun, tema dapat bervariasi tergantung pada genre atau jenis novel yang ditulis oleh pengarang.

Tema yang baik harus terkait dengan plot cerita dan dapat dijelaskan secara jelas. Selain itu, tema yang baik juga harus dapat memberikan pesan moral yang bermakna dan dapat diterima oleh pembaca.

Dalam membaca sebuah novel, penting untuk memahami tema cerita untuk dapat menggali pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Memahami tema juga dapat membantu pembaca untuk menafsirkan cerita dengan lebih baik dan memberikan pengalaman membaca yang lebih bermakna.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan merupakan unsur intrinsik dalam sebuah novel yang sangat penting untuk menghidupkan cerita. Tokoh dalam sebuah novel adalah karakter atau orang yang diceritakan dalam cerita, sedangkan penokohan mengacu pada cara pengarang menggambarkan karakter tokoh dalam cerita.

Tokoh dalam sebuah novel dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh pendukung. Tokoh protagonis adalah tokoh utama dalam cerita yang biasanya memiliki tujuan atau perjuangan yang harus dicapai. Tokoh antagonis adalah tokoh yang bertentangan dengan tokoh protagonis dan seringkali menjadi penghalang untuk mencapai tujuan tokoh utama. Sedangkan tokoh pendukung adalah tokoh yang membantu atau memberikan dukungan kepada tokoh utama dalam cerita.

Penokohan dalam sebuah novel mencakup berbagai aspek seperti kepribadian, sikap, tindakan, dan motivasi dari setiap tokoh dalam cerita. Pengarang dapat mengembangkan penokohan tokoh dengan menggambarkan karakter, perilaku, dan emosi dari tokoh dalam cerita. Pengarang juga dapat menunjukkan perubahan dalam penokohan tokoh, dari awal cerita hingga akhir cerita.

Penokohan yang baik dapat membuat tokoh dalam cerita menjadi lebih hidup dan terasa nyata bagi pembaca. Selain itu, penokohan yang baik juga dapat membuat pembaca lebih tertarik untuk mengikuti kisah tokoh dalam cerita.

3. Latar

Latar merupakan salah satu unsur intrinsik dalam sebuah novel yang mengacu pada tempat dan waktu di mana cerita berlangsung. Latar dapat mencakup berbagai aspek seperti lingkungan, budaya, dan situasi sosial-politik yang ada pada waktu cerita berlangsung.

Latar dapat digunakan oleh pengarang untuk menciptakan suasana dan atmosfer yang sesuai dengan cerita yang ingin disampaikan. Misalnya, jika sebuah cerita berlatar di sebuah kota besar yang sibuk, maka pengarang dapat menggambarkan suasana kota yang ramai dan padat untuk menciptakan efek yang tepat pada pembaca.

Selain itu, latar juga dapat digunakan untuk memperkuat tema dan pesan yang ingin disampaikan dalam cerita. Sebagai contoh, jika tema cerita adalah tentang kehidupan di pedesaan, maka latar pedesaan yang digambarkan dapat membantu pengarang untuk menunjukkan keunikan dan karakteristik dari kehidupan di pedesaan.

Latar yang baik dapat membantu pembaca untuk lebih memahami cerita dan merasa terlibat dalam dunia fiksi yang dibangun oleh pengarang. Oleh karena itu, penting bagi pengarang untuk memperhatikan latar dengan seksama dan menggambarkannya dengan jelas dan rinci.

4. Alur dan Plot

Alur dan plot merupakan unsur intrinsik dalam sebuah novel yang erat kaitannya dengan bagaimana cerita disampaikan dan berkembang dari awal hingga akhir. 

Alur mengacu pada urutan kronologis kejadian yang terjadi dalam cerita. Hal ini meliputi bagaimana cerita dimulai, bagaimana konflik dan masalah muncul, dan bagaimana konflik tersebut diatasi atau diselesaikan. Alur dapat menjadi sumber ketegangan dan kegembiraan bagi pembaca, dan dapat membantu menjaga ketertarikan pembaca terhadap cerita.

Sementara itu, plot mengacu pada susunan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita. Plot biasanya mencakup beberapa elemen seperti abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda. Abstrak mengenalkan ide dasar cerita dan menunjukkan mengenai apa cerita tersebut, sedangkan orientasi memperkenalkan karakter-karakter utama dalam cerita. Komplikasi muncul ketika karakter-karakter menghadapi tantangan dan masalah yang membuat cerita menjadi menarik. Evaluasi adalah ketika karakter-karakter mencoba menyelesaikan masalah atau konflik, resolusi adalah bagaimana karakter-karakter menyelesaikan konflik dan koda adalah penyelesaian cerita dan biasanya digunakan untuk memberikan kesan terakhir.

Dalam sebuah novel, alur dan plot saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Alur yang kuat dapat membantu memperkuat plot dan membuat pembaca merasa lebih terlibat dengan cerita, sedangkan plot yang baik dapat membantu menjaga alur cerita tetap jelas dan terstruktur dengan baik.

Bagi para penulis, penting untuk memahami perbedaan antara alur dan plot dan bagaimana keduanya saling terkait. Dengan mempelajari lebih lanjut tentang alur dan plot, penulis dapat mengembangkan cerita yang lebih menarik dan memikat bagi pembaca.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang dalam sebuah novel mengacu pada perspektif atau sudut pandang dari mana cerita tersebut disampaikan kepada pembaca. Pilihan sudut pandang dapat mempengaruhi cara pembaca memahami cerita dan hubungan mereka dengan karakter dan peristiwa dalam cerita.

Sudut pandang dalam sebuah novel dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga terbatas, dan sudut pandang orang ketiga yang tidak terbatas. 

Sudut pandang orang pertama biasanya ditulis dari sudut pandang satu karakter dalam cerita. Cara ini memberikan pembaca pengalaman langsung dari perspektif karakter, memungkinkan mereka merasakan emosi dan pikiran karakter dengan lebih mendalam. Namun, sudut pandang ini juga memiliki keterbatasan dalam memperkenalkan informasi dan sudut pandang lain dari karakter lain dalam cerita.

Sudut pandang orang ketiga terbatas juga ditulis dari sudut pandang satu karakter, tetapi disampaikan dengan kata-kata orang ketiga. Hal ini memungkinkan penulis untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan karakter tersebut secara lebih jelas, tetapi masih ada batasan informasi yang dapat disampaikan. 

Sudut pandang orang ketiga yang tidak terbatas biasanya ditulis dari sudut pandang seorang narator yang memiliki pengetahuan penuh tentang semua karakter dan peristiwa dalam cerita. Sudut pandang ini memungkinkan penulis untuk mengungkapkan informasi yang lebih banyak, tetapi dapat membuat pembaca lebih sulit untuk merasa terhubung secara emosional dengan karakter dalam cerita.

6. Amanat

Amanat dalam sebuah novel mengacu pada pesan moral, sosial, atau politik yang ingin disampaikan oleh penulis melalui cerita. Amanat dapat berupa nilai-nilai positif yang ingin disampaikan, pelajaran hidup yang dapat diambil, atau kritik sosial yang ingin disampaikan melalui cerita.

Amanat dalam sebuah novel sering kali terkait erat dengan tema cerita. Misalnya, tema tentang persahabatan dapat memiliki amanat bahwa persahabatan adalah penting dan harus dijaga, atau tema tentang perjuangan dapat memiliki amanat bahwa keberhasilan hanya bisa diraih melalui kerja keras dan ketekunan.

Penulis dapat mengekspresikan amanat mereka melalui dialog antara karakter, tindakan karakter, atau melalui narasi dalam cerita. Amanat yang baik tidak harus langsung dan menghakimi, namun dapat disampaikan dengan cara yang halus dan indah sehingga pembaca dapat menarik kesimpulan sendiri dari cerita.

Dalam menulis novel, penting untuk mempertimbangkan amanat cerita agar cerita memiliki pesan yang kuat dan berkesan bagi pembaca. Dengan mengungkapkan pesan moral, sosial, atau politik yang jelas, penulis dapat memotivasi pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang isu-isu yang diangkat dalam cerita.

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam sebuah novel merujuk pada cara penulis mengungkapkan cerita dan menggambarkan karakter, suasana, dan keadaan dalam cerita. Gaya bahasa dapat mempengaruhi cara pembaca memahami dan meresapi cerita yang dibaca. Gaya bahasa yang kuat dan menarik dapat membuat cerita lebih hidup dan membuat pembaca merasa terlibat secara emosional dalam cerita.

Gaya bahasa dapat berupa penggunaan kata-kata, kalimat, dan gaya penulisan yang unik dan khas dari penulis. Misalnya, penulis dapat menggunakan istilah atau kosakata khas dari suatu daerah atau golongan untuk menggambarkan karakter atau suasana cerita. Penulis juga dapat menggunakan majas, metafora, atau simile untuk membuat cerita lebih berwarna dan menarik.

Gaya bahasa juga dapat mencerminkan kepribadian atau karakteristik penulis. Misalnya, penulis yang suka mengekspresikan emosi dan suasana hati dapat menggunakan gaya bahasa yang lebih deskriptif dan gamblang. Di sisi lain, penulis yang lebih memilih mengekspresikan ide-ide atau konsep dapat menggunakan gaya bahasa yang lebih abstrak dan filosofis.

Pemilihan gaya bahasa juga dapat dipengaruhi oleh genre cerita. Sebagai contoh, dalam cerita fiksi ilmiah atau fantasi, penulis dapat menggunakan kosakata atau istilah khusus yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau mitologi. Dalam cerita sejarah, penulis dapat menggunakan kosakata atau istilah yang khas dari masa lalu untuk menciptakan suasana dan karakteristik yang autentik.

Unsur Ekstrinsik Novel

1. Nilai-Nilai Kehidupan

Nilai-nilai kehidupan adalah pandangan hidup atau keyakinan yang tercermin dalam sebuah cerita atau novel. Nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam sebuah novel dapat mempengaruhi cara pembaca memahami cerita dan memberikan pengaruh pada pandangan hidup mereka. 

Dalam sebuah novel, nilai-nilai kehidupan dapat terungkap melalui karakter, konflik, atau pesan moral yang disampaikan dalam cerita. Beberapa nilai kehidupan yang seringkali muncul dalam sebuah novel adalah keberanian, persahabatan, cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

Keberanian adalah salah satu nilai kehidupan yang sering muncul dalam sebuah novel. Karakter utama dalam novel seringkali dihadapkan pada situasi yang memerlukan keberanian untuk menghadapi tantangan dan rintangan yang ada. Contohnya, dalam novel "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata, karakter utama harus memperjuangkan pendidikan meskipun menghadapi banyak kendala dan rintangan.

Persahabatan juga merupakan nilai kehidupan yang penting dalam sebuah novel. Persahabatan dapat memberikan dukungan dan kekuatan bagi karakter utama dalam menghadapi rintangan dalam cerita. Dalam novel "Harry Potter" karya J.K. Rowling, persahabatan antara Harry, Ron, dan Hermione sangat penting dalam menghadapi tantangan dan mengalahkan Voldemort.


Cinta juga seringkali menjadi nilai kehidupan dalam sebuah novel. Cinta dapat memotivasi karakter utama untuk melakukan perbuatan-perbuatan heroik dan menghadapi tantangan dalam cerita. Contohnya, dalam novel "Romeo and Juliet" karya William Shakespeare, cinta yang tulus antara Romeo dan Juliet menjadi pemicu konflik dalam cerita.

Selain itu, kesetiaan dan pengorbanan juga seringkali menjadi nilai kehidupan yang muncul dalam sebuah novel. Kesetiaan dan pengorbanan dapat membantu karakter utama untuk mempertahankan nilai-nilai yang diyakini dan menghadapi rintangan dalam cerita.

Memahami nilai-nilai kehidupan dalam sebuah novel dapat membantu pembaca untuk memahami cerita dengan lebih baik dan memberikan pengaruh pada pandangan hidup mereka. Bagi penulis, mempertimbangkan nilai-nilai kehidupan dalam membuat cerita dapat membantu mereka dalam menyampaikan pesan moral yang kuat dan membawa pengaruh positif pada pembaca.

2. Latar Belakang Pengarang

Latar belakang pengarang adalah salah satu unsur ekstrinsik dalam sebuah novel yang dapat memengaruhi cara pembaca memahami cerita. Latar belakang pengarang mencakup berbagai aspek, seperti latar belakang pendidikan, budaya, agama, politik, dan sebagainya, yang dapat mempengaruhi sudut pandang dan pemikiran pengarang dalam menulis cerita.

Latar belakang pengarang dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang tema atau pesan moral yang disampaikan dalam cerita. Misalnya, jika pengarang memiliki latar belakang yang kuat dalam sejarah atau politik, hal ini dapat mempengaruhi sudut pandang pengarang dalam menulis cerita dan memberikan perspektif yang berbeda pada tema atau pesan moral yang disampaikan.

Selain itu, latar belakang pengarang juga dapat mempengaruhi pilihan bahasa dan gaya penulisan yang digunakan dalam sebuah novel. Jika pengarang memiliki latar belakang yang kuat dalam sastra atau bahasa, hal ini dapat mempengaruhi penggunaan bahasa dan gaya penulisan yang lebih kompleks dalam cerita.

Namun, terkadang latar belakang pengarang juga dapat menimbulkan bias atau stereotip dalam penulisan cerita. Misalnya, jika pengarang memiliki latar belakang yang kuat dalam budaya tertentu, hal ini dapat mempengaruhi penggambaran karakter atau latar belakang dalam cerita.

Dalam memahami sebuah novel, penting untuk mempertimbangkan latar belakang pengarang dalam membaca dan menafsirkan cerita. Namun, juga penting untuk tidak menilai cerita hanya berdasarkan latar belakang pengarang, karena cerita dapat memiliki makna dan pesan moral yang dapat diterima oleh berbagai latar belakang pembaca.

3. Latar Belakang Masyarakat

Latar belakang masyarakat adalah unsur ekstrinsik dalam sebuah novel yang mencakup nilai-nilai, budaya, dan norma yang ada dalam masyarakat di mana pengarang hidup dan menulis cerita. Latar belakang masyarakat dapat memengaruhi cara pengarang menggambarkan tokoh, latar belakang, dan konflik dalam cerita.

Misalnya, jika pengarang hidup dan menulis dalam masyarakat yang memiliki nilai-nilai yang kuat tentang keluarga, hal ini dapat mempengaruhi penggambaran hubungan antara tokoh dalam cerita dan konflik yang dihadapi. Selain itu, latar belakang masyarakat juga dapat mempengaruhi pilihan bahasa dan gaya penulisan yang digunakan dalam cerita.

Latar belakang masyarakat juga dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang tema atau pesan moral yang disampaikan dalam cerita. Misalnya, jika sebuah cerita menggambarkan kehidupan masyarakat yang korup, hal ini dapat menggambarkan pesan moral tentang pentingnya integritas dan kejujuran dalam kehidupan.

Namun, terkadang latar belakang masyarakat dapat menimbulkan stereotip atau generalisasi dalam penggambaran karakter atau latar belakang dalam cerita. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan bahwa masyarakat bukanlah satu entitas homogen, melainkan terdiri dari berbagai kelompok dengan nilai dan budaya yang berbeda.

Dalam memahami sebuah novel, penting untuk mempertimbangkan latar belakang masyarakat dalam membaca dan menafsirkan cerita. Namun, juga penting untuk tidak menilai cerita hanya berdasarkan latar belakang masyarakat, karena cerita dapat memiliki makna dan pesan moral yang dapat diterima oleh berbagai latar belakang pembaca.


Dalam menulis novel, penulis harus memperhatikan unsur-unsur tersebut untuk menghasilkan cerita yang berkualitas dan menarik. Bagi kamu yang tertarik mempelajari lebih lanjut tentang materi novel, bisa mengunjungi website "shortTzy" yang menyediakan berbagai materi dan tips menulis novel yang berguna untuk meningkatkan kemampuan menulismu.

Dengan memahami pengertian, ciri-ciri, struktur, dan unsur-unsur novel, kamu akan dapat menulis novel yang berkualitas dan menarik bagi pembaca. Selamat menulis!

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
Kami mendeteksi anda menggunakan plugin adblock. Tolong matikan adblocknya agar website ini bisa berjalan.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.